PERSEPSI SEHAT SAKIT MASYARAKAT PADA YANKES ALTERNATIF GHANTA YOGA DENPASAR
DOI:
https://doi.org/10.33651/jpkik.v7i1.228Keywords:
Persepsi sehat, Persepsi sakit, Pelayanan kesehatan alternatifAbstract
Pelayanan kesehatan tradisional di Indonesia sudah mulai diperhatikan sejak dikeluarkannya UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan mengalami perkembangan pada peraturan pemerintah nomor 103 tahun 2014 yang menjelaskan tata laksana dan jenis pelayanan kesehatan tradisional (Yankestrad) (Kemenkes, RI 2015). Peminat pengobatan tradisional di Bali dapat dikatakan cukup banyak. keadaan ini justru menjadi pertanyaan, mengingat fasilitas kesehatan dan pelayanan kesehatan konvensional sudah tersedia dengan cukup baik. Berdasarkan keadaan tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai persepsi sehat dan sakit masyarakat terhadap pelayanan kesehatan alternatif Ghanta Yoga di Kota Denpasar. Tujuan Penelitian ini adalah mengetahui gambaran persepsi masyarakat yang berkunjung ke Pelayanan Kesehatan Alternatif Ghanta Yoga di Kota Denpasar. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan eksplorasi yang dilaksanakan di Yayasan Taman Bukit Pengajaran Kota Denpasar pada bulan 26 Juli – 25 Agustus 2020. Total informan sebanyak 12 orang yang terdiri dari 5 orang pengunjung sakit, 5 orang pengunjung sehat, 1 orang pengelola, dan 1 orang praktisi yoga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi sakit sebagian besar informan yaitu penyakit yang dideritanya merupakan penyakit kronis yang telah dikonsultasikan ke tenaga medis, sering minum obat dan perlu melakukan kunjungan rutin untuk memeriksa kesehatan secara medis. Persepsi sehat informan berkaitan dengan upaya maintain kesembuhannya dan kesehatannya dengan melakukan yoga. Proses labeling penyakit yang dilakukan oleh pengunjung berawal dari diagnosa medis. Informan yang berkunjung hampir seluruhnya menderita penyakit tidak menular dan kronis seperti tumor otak, kanker payudara, prediabetes, lupus, hingga gangguan psikis. Tidak ada tarif yang berlaku bagi pengunjung yang ingin mendapatkan pengobatan di Ghanta Yoga, namun bersifat punia yang berarti sukarela sesuai kemampuan pengunjung.
References
Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional. 2015;
Fanani S, Dewi TK. Health Belief Model pada Pasien Pengobatan Alternatif Supranatural dengan Bantuan Dukun. J Psikol Klin dan Kesehatan Ment. 2014;03(4).
Wulanyani NMS, Wahyuni KM, Bajirani MPD, Immanuel AS. Why do People in Bali Meet Traditional Healer?? Adv Soc Sci Educ Humanit Res. 2020;452:131–6.
Fanani, S. and Dewi, T. K. (2014) ‘ Health Belief Model pada Pasien Pengobatan Alternatif Supranatural dengan Bantuan Dukun’, Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 03(4).
Glanz, K. and Donald B. Bishop. (2010). The Role of Behavioral Science Theory in Development and Implementation of Public Health Interventions. The Annual Review of Public Health is online at publhealth.annualreviews.org
Kemenkes, RI (2015). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional. Jakarta. https://farmasi.unpad.ac.id/pusdiherbal/wp-content/uploads/2019/04/2.PP-No.-103-Th-2014-ttg-Kesehatan-Tradisional.pdf. (diakses : 31 Oktober 2020)
Mishra, S.K. et al. (2016). Complementary and Alternative Medicine in Chronic Neurological Pain. Indian Journal of Pain Vol 29.
Triratnawati, A. (2010). Pengobatan tradisional, upaya meminimalkan biaya kesehatan masyarakat desa di Jawa. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 13(02).
Triratnawati, A. et al. (2014). The Power of Sugesti in Traditional Javanese Healing Treatment. Jurnal Komunitas Research and Learning in Sociology and Anthropology. http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas
Wulanyani, N. M. S. et al. (2020) ‘Why do People in Bali Meet Traditional Healer?’, 452(Aicosh), pp. 131–136. doi: 10.2991/assehr.k.200728.029.
Published
How to Cite
Issue
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
JPKIK : Jurnal Peneliian dan Kajian Ilmiah kesehatan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License
You are free to :
Share — copy and redistribute the material in any medium or format
Adapt — remix, transform, and build upon the material for any purpose, even commercially
Under the following terms :
Attribution — You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use.
ShareAlike — If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original
No additional restrictions — You may not apply legal terms or technological measures that legally restrict others from doing anything the license permits


